Setiap yang hidup pastilah punya satu sandaran yang tak akan bisa tergantikan apapun kondisinya. Begitu juga dengan Sophie. Dirinya selalu punya Cala, Calantha, manusia yang sudah memasuki 6 tahun ini menyandang status sebagai sahabat dekatnya.
Ups and down nya kehidupan telah Ia lalui bersama. Disaat dunia lagi teramat kejam dan tak ada satupun yang percaya, Cala tetap di situ, nggak kemana-mana, dia tetap support Sophie. Begitupun jika Cala tengah dihujani banyak masalah, jelas Sophie akan selalu jadi garda terdepan yang melindugi. Memastikan tak ada satupun bagian dirinya yang tersakiti.
Everything was fine, until someday, salah satu temannya, Caolan bertanya satu hal yang jawabannya sulit sekali untuk ditemukan.
“Do you really just care about her, or, do you love her that much?”
Pertanyaan tersebut terus bersarang di pikiran si kecil. Sampai terkadang Ia jadi overthinking sendiri. Kalau dipikir-pikir, si Capricorn seringkali jengkel pada Virgo setiap kali dia punya pacar, Sophie selalu sensi kalau tau Cala lagi jalan sama pacarnya. Ia juga loyo banget setiap kali dengerin Cala cerita tentang gimana baiknya pacarnya itu. Dan yang terakhir, Sophie justru bahagia banget waktu tau Cala putus dari pacarnya.
Sophie terus kebingungan, hilang arah, sekalipun hari-hari selanjutnya tetap akan dilalui bareng Cala. Hingga pada akhirnya Ia sendiri menyadari seutuhnya bahwa dirinya sudah jatuh sepenuhnya pada sahabat sendiri.
Setiap inci wajah Cala yang diamati diam-diam berhasil menciptakan degupan jantung yang tak beraturan dalam dada. Senyumnya, tawa renyahnya, bahkan cara gadis berambut middle length menatap si rambut pendek hari itu, berhasil membuat seorang Sophie ini hilang kewarasan. Satu hari itu hanya diisi oleh dirinya yang salah tingkah akibat tindak tanduk menggemaskan sahabatnya sendiri.
Apakah overthinking Sophie berhenti sampai di situ saja? Nggak. Yang terjadi setelahnya adalah hanya dirinya yang terus sibuk memikirkan bagaimana cara mengutarakan ini semua pada sahabatnya itu. Ia juga terus kepikiran berbagai kemungkinan jawaban yang akan dirinya terima dari Cala.
Antara overthinking dan cupu memang beda tipis.
Siapa sangka, setelah berkonteplasi selama yang si Capricorn bisa, hari ini tiba juga. Hari di mana dirinya akan mengungkapkan semuanya pada si Virgo. Sophie sendiri sudah mencoba bercerita pada Caolan dan tentu respon dari teman dekatnya satu itu membuat keyakinannya semakin bulat, udah nggak peduli lagi gimana jawaban Calantha nantinya, cuma mau perasaannya lega. Toh Cala juga sekarang lagi sendiri.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu si tinggi segera menghampiri. Bisa disebut kebetulan karena malam ini mereka memakai pakaian serba hitam, topi dan juga masker.
"Mau ngomong apaaa?"
Bukannya menjawab, si Capricorn justru menyodorkan bucket bunga yang terbuat dari kertas origami. Raut wajah kaget jelas terpampang di rupa si Virgo meski dengan begitu tangannya tetap menyambut pemberian bucket bunga itu.
"Aduh gimana ngomongnya, ya. Gue..." Sophie kikuk bukan main dibuatnya. Lidahnya terasa kelu, seolah menahan dirinya untuk melanjutkan ucap.
"Apasih ya Allah, gue tinggal nih, ya."
"YA JANGAN LAAAH!"
"Makanya ngomooong."
"Gue suka sama lo."
Cala terdiam. Tidak percaya dengan apa yang barusan diucapkan oleh si kecil yang tengah menunduk dihadapannya ini barusan.
"Ini lo serius gak?"
"Emang gue keliatan main-main?"
“Ya, nggak, cuman masih heran aja kenapa gue orangnya. Gue masih banyak kurangnya, lo paling tau sendiri kalo hidup gue juga berantakan. Lo tau sendiri, I’m filled with sorrow dan kemungkinan terbesarnya kalo lo sama gue—,”
Cala menarik nafas dan menghembuskannya dengan gusar sebelum Ia melanjutkan ucapannya yang terputus.
“Gue bisa aja nyakitin lo just like how I hurt myself.”
“Ya emangnya kenapa bukan lo? Gue juga masih banyak kurangnya terus kenapa, Cal? In a relationship, two people should be in it. Jadi gue nggak bakalan biarin lo sendirian lagi."
"Ya tapi kan-"
"Tapi tapi tapi tapi rumbahhhh!"
"Serius dulu, babiiii."
"Ya abisnya lo, sih."
"Yaudah jadi gimana?"
Hening lagi. Keduanya sama-sama sibuk dengan isi kepala sendiri. Memikirkan plus minus jika memang memutuskan untuk lanjut menjadi sepasang kekasih. Yang jadi isi pikiran saat ini adalah 'kalau nanti putus, gue bakal kehilangan pacar iya, temen iya juga.'
Baik Sophie sendiri maupun Calantha tidak ingin kehilangan satu sama lain.
“Kalo gue maunya sama lo, terus gimana dong?”
"Nanti lo nyesel."
"Lebih nyesel lagi kalo gak sama lo, sih."
"Yaudah."
"Yaudah apaaa."
"Pura-pura budeg lo, ya. Yaudah ituuu, jadi."
Calantha malu bukan main. Perasaan aneh muncul dalam dirinya. Senang, malu, canggung bercampur jadi satu.
"Ciye salting ya, lo."
"Lo gue lempar sendal juga nih, ya."
Keduanya tertawa. Enggak, semua gak berakhir disini. Sophie dan Calantha justru berakhir menghabiskan waktu bersama sambil makan ice cream, merayakan kemenangan atas perasaan keduanya.